Lindu
Cerpen Zainal Arifin Thoha
Sunday, 27 May 2007, Rubrikasi – Budaya
SUDAH hampir sebulan ini, burung gagak berkaok-kaok mengitari daerah kami, terutama di malam hari. Konon, kata para sesepuh, bila burung gagak berkaok-kaok di malam hari, seperti itu, adalah pertanda akan ada kematian. Tetapi, fenomena burung gagak itu tak hanya terjadi di daerah kami saja, melainkan di daerah lain, menurut kawan saya, juga acap terdengar.
Bagi kami, antara percaya dan tidak dengan pertanda alam itu, merupakan hal lumrah, lantaran antara kami dengan generasi masa lalu terpaut jauh dalam hal keyakinan ataupun ilmu titen.
Tapi nyatanya, Mbah Imam, sesepuh masjid yang juga abdi dalem keraton menangkap isyarat lain. Itu sebabnya, hampir saban hari ia membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani. Ketika saya tanyakan kepadanya, untuk apa membaca Manaqib seperti itu, Mbah Imam menjawab untuk keselamatan. Bagi siapa? Ya, bagi diri sendiri, keluarga, para tetangga, serta masyarakat pada umumnya.
Nah, ketika Lindu terjadi di hari Sabtu pagi itu, saya teringat dengan aktivitas yang dilakukan Mbah Imam. Bagaimana kabar beliau? Sebab yang saya lihat dari berita televisi, rumah-rumah di daerah Mbah Imam telah luluh lantak, bahkan beberapa orang menjadi korban dari bencana itu.
Saya sendiri, bersama keluarga, sehari sebelum lindu atau gempa itu terjadi, telah pergi ke Jawa Timur, selain untuk suatu acara juga kangen dengan orang tua. Maka demi mendengar Yogya digoyang gempa, kami segera balik. Sesampainya di Yogya, saya segera meluncur ke rumah Mbah Imam. Namun, yang saya dapati hanya rumah beliau yang utuh, sedangkan Mbah Imam sendiri menurut informasi yang saya dapatkan dari tetangganya, tengah pergi ke rumahnya yang berada di gunung daerah barat.
Sepanjang perjalanan menuju dan balik dari rumah Mbah Imam, saya menyaksikan rumah-rumah yang berobohan, hanya tinggal puing-puing. Begitu pula, saya dapati, keluarga-keluarga yang hidup di tenda-tenda darurat. Pada saat seperti itulah, teringat dengan apa yang disampaikan seorang kiai muda yang saya temui di Kediri saat bencana Yogya terjadi.
”Bencana itu memang tak bisa dihindarkan,” ucapnya.
”Mengapa?”
”Ya, karena memang sudah saatnya, dan semuanya itu ada hubungannya dengan ulah manusia sendiri.”
”Maksudnya?”
”Alam sudah tak lagi sabar menyaksikan tingkah polah manusia.”
”Mengapa yang banyak menjadi korban rakyat kecil?”
”Para korban itu, sebenarnya justru diselamatkan, utamanya dari bencana yang lebih besar.”
”Maksud bencana yang lebih besar?”
”Saya sendiri tidak begitu tahu. Menurut guru saya, kurang lebih sebulan sebelum bencana itu terjadi, beliau ditemui Nyai Roro Kidul yang mengabarkan akan datangnya lindu yang akan banyak menelan korban.”
”Lantas, mengapa…” saya belum sempat menyelesaikan kalimat.
”Iya, sebenarnya guru saya telah mencoba berunding dan juga berdoa kepada Tuhan, namun lindu itu memang sudah waktunya terjadi, tak bisa dielakkan. Bahkan, kata beliau, bencana akan terus terjadi hingga tahun 2010, di mana-mana di negeri ini.”
”Terus,” saya bertambah penasaran.
”Menurut saya sendiri, yang dimaksud bencana lebih besar itu, tidak lain adalah bencana akidah, bencana moral, bencana iman. Mereka, para korban itu, telah diselamatkan Allah dari bencana yang jauh lebih berbahaya. Sebab rusaknya iman, rusaknya moral, jauh lebih berbahaya dari bencana.”
Ya, apa yang disampaikan kiai muda yang saya temui di Kediri itu masih terus terngiang, terbayang-bayang, hingga saya sampai di rumah kembali. Kepada istri, saya sampaikan bahwa Mbah Imam tak berhasil saya temui.
Anehnya, sore tatkala saya masih tertidur kecapekan, Mbah Imam telah hadir di rumah kami.
”Bukankah Mbah Imam pergi ke gunung di barat?” tanya saya pada beliau.
”Benar, saya memang nyambangi keluarga dan saudara saya di sana.”
”Lantas, kok sekarang sudah di sini lagi?”
”Kata tetangga saya, Sampean da-tang ke rumah saya.”
Mbah Imam terlihat tenang-tenang saja. Tapi justru itulah yang makin membuat saya penasaran kepadanya. Sebab tidak hanya sekali ini perilaku dan tindakan Mbah Imam terasa nyeleneh di mata saya. Setahu saya, daerah gunung barat sangat jauh dari sini, diperlukan waktu kurang lebih seharian untuk perjalanan.
”Menurut Panjenengan, apa sebenarnya penyebab semuanya ini, Mbah?” saya memancing hikmah dari beliau.
”Ya, seperti yang pernah saya sampaikan sejak dulu itu, bahwa apa pun bencana yang terjadi menimpa manusia, itu disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.”
”Tapi, kan banyak yang tak berdoa terkena bencana itu?”
”Bencana itu, mengandung di dalamnya teguran dan peringatan. Dan menjadi hak Allah untuk mengambil orang ini dan orang itu, yang kita sebut sebagai korban. Tapi intinya, terhadap bencana, seperti lindu besar itu, kita musti pandai-pandai mengambil hikmah.”
”Terus, apa yang musti kami lakukan, Mbah?”
”Kalau kita masih dilindungi oleh Allah, itu berarti kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan sampai kita berbangga, bahwa kita yang diselamatkan berarti kita tak memiliki banyak dosa. Tidak begitu. Sebaliknya, kita musti lebih banyak introspeksi, memperbaiki diri dan menambah rasa peduli terhadap sesama. Jangan sampai kita bertambah egois dan mementingkan diri sendiri. Sebab nyata-nyata hanya Allah yang paling berkuasa. Kita, manusia ini, bergelimang dosa dan tak memiliki kekuatan apa-apa, kecuali kekuatan yang telah diberikan oleh Allah Swt.”
Tidak seperti biasanya, sore itu Mbah Imam sepertinya terburu-buru. Saya tak habis mengerti, orang setua beliau ternyata memiliki kepedulian yang tinggi. Sewaktu pamit dari rumah saya, beliau bilang hendak mengunjungi orang-orang yang tertimpa bencana di daerah selatan. q – o.
Tidak semua anak dilahirkan untuk menjadi seniman, ilmuwan ataupun pengusaha yang hebat, tetapi hampir semua anak dilahirkan dengan kemampuan dan keinginan untuk menjadi kreatif. Dan semua Ibu dapat membantu anaknya untuk mengembangkan hal ini.
Apapun karir anak anda nanti pada saat ia dewasa, mendorong kreativitasnya dari sejak dini akan membantunya untuk memiliki hidup yang lebih kaya dan lebih memuaskan. Cobalah tips-tips dibawah ini, tetapi Anda bebas menjadi kreatif sendiri dan menciptakan cara-cara Anda untuk mengembangkan kreativitas si Kecil:
Biarkan mereka sedikit “berantakan”. Sifat kreatif harus dibiarkan untuk berfokus pada kreasi, bukan diganggu dengan keinginan agar semuanya rapi. Dan ini terutama sangat penting bagi balita. Berkeras agar crayon mereka selalu ada di kotaknya, atau tangan dan kaki mereka selalu bersih adalah meminta suatu hal yang mustahil. Cara yang mudah adalah menyiapkan tempat mereka berkreasi sehingga mereka bebas mengotori tanpa harus menyusahkan anda. Tutupi lantai dan furnitur dengan kertas koran sehingga ia tidak merusak keindahan rumah anda. Juga, setelah ia selesai, siapkan kain basah untuk menyeka bagian tubuhnya yang tercoret-coret.
Berikan mereka kebebasan. Ingatlah bahwa kreativitas membutuhkan sebanyak mungkin kebebasan dalam berkarya. Tidak ada cara yang salah dalam mereka menggambar, melukis atau mewarnai. Lupakan ajaran zaman dahulu dimana kalau mewarnai tidak boleh keluar garis dan sebagainya. Mengarahkan dan memberi saran terlalu banyak pada si Kecil saat ia berkreasi dapat menghambat kreativitasnya. Biarkan ia berkreasi sesuka hati, tetapi bila ia bertanya atau minta pertolongan, anda selalu siap untuk membantunya.
Jangan mengkritik. Proses dan hasil karya anak anda hanya perlu menyenangkan dirinya sendiri, bukan anda maupun orang lain. Jangan berkata, misalnya ketika ia sedang menggambar untuk neneknya, “Oh, mungkin Nenek tidak suka warna ini atau gambar ini. Bagaimana kalau menggambar ini saja dengan warna ini?” Melakukan yang berbeda adalah tentu saja bagian dari kreativitas itu sendiri. Dan bila anak Anda tidak suka karyanya sendiri, yakinkanlah padanya bahwa karyanya cukup bagus, dan berikan saran untuk ia bisa membuatnya lebih bagus lagi.
Lihat lebih jauh dari cuma coretan saja. Temukan hal-hal yang bisa anda puji dalam setiap karya kreatif anak anda. Walaupun kertas gambar si Kecil hanya penuh dengan coretan-coretan, pujilah cara ia mempergunakan warna atau kertasnya. Tapi jangan terlalu berlebihan sampai anak Anda meragukan ketulusan pujian Anda atau berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.
Koleksi karya-karyanya. Tingkatkan rasa keberhasilan anak Anda dengan menggantungkan gambar-gambar atau karya-karyanya disekitar rumah – ditempel di kulkas dengan magnet, di ruang bermain, di pintu kamarnya, di kaca rias kamar anda, di dekat tempat tidur Anda. Buat “portfolio” dari gambar-gambar kesukaannya supaya ia bisa lihat lagi atau tunjukkan pada tamu. Kalau ia suka bernyanyi atau menari, biarkan ia menampilkannya pada Anda. Tapi jangan memaksanya untuk tampil di depan umum jika ia tidak mau.
Berceritalah. Jangan terlalu bergantung pada buku-buku cerita anak saja, Anda juga bisa bercerita padanya dengan menciptakan karakter-karakter sendiri. Libatkan ia dengan meminta ia untuk membantu menyelesaikan masalah dari karakter-karakter tersebut. Cara yang lain juga bisa dengan tidak menyelesaikan cerita tetapi memintanya untuk menciptakan akhir cerita itu sendiri.
Ajari anak Anda. Membacakan buku cerita yang sesuai dengan umurnya, mengajaknya mendengarkan musik, adalah cara lain untuk mendukung kreativitasnya. Jangan terlalu memaksa, tapi biasakan anak Anda untuk mengenali karya seni, sastra, dan musik untuk mengembangkan kreativitasnya.
Lihat lebih jauh dari bidang seninya. Ada banyak tempat untuk kreativitas anak Anda yang tidak berhubungan dengan bidang seni. Anak Anda bisa pintar bermain pasir (yang nantinya bisa membantu dia menjadi ilmuwan, arsitek, insinyur) atau di dapur, atau bahkan di lemari pakaian (ia bisa menjadi perancang mode). Doronglah kreativitas di setiap bagian kehidupan anak Anda. Anda juga yang akan bangga pada akhirnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
