DOA ISTRI TUKANG GORENGAN
Ch. Enung Martina
(Terinspirasi oleh Pak Krismianto, guru Seni Rupa SMP Santa Ursula BSD)
Pagi ini aku bangun seperti biasanya, jam empat subuh. Semua penghuni rumah masih terlelap dalam mimpi mereka. Kusiapkan sarapan dan bekal makan untuk anak-anak yang akan sekolah. Seperti hari-hari biasanya sesudah beres urusan di rumah, aku pergi ke pasar tradisional untuk belanja keperluan dagangan suamiku. Suamiku seorang tukang gorengan yang mangkal di dekat terminal angkot di Tangerang.
Pasar Serpong sudah buka sejak pagi buta. Para pedagang yang berjualan di area parkir angkot sibuk melayani para pembeli yang kebanyakan para bakul yang akan berbelanja untuk dijual lagi di rumahnya atau dijajakan keliling. Kebanyakan para pembeli memang kaum hawa. Area parkir ini sampai jam enam digunakan untuk tempat mangkal para penjual sayur, buah, makanan kecil, bumbu, dll.
Aku mulai mencari barang yang akan kubeli. Karena suamiku penjual gorengan, barang yang kubeli adalah minyak curah, tepung terigu, tepung tapioka untuk campuran tepung terigu agar rasa gorengan lebih renyah dan kemeriuk, toge, wortel, kubis, daun bawang, ubi jalar, pisang uli, singkong, dan tentu saja tahu-tempe.
Ini dia masalahnya. Sesudah aku berkeliling mencari bahan-bahan tadi ternyata semua barang harganya makin naik saja. Sementara itu uang modal kami tetap sama, tidak bertambah. Wadoohh, opo iki, rek? Semua barang kok mahal.
Harga semua barang naik terus karena harga minyak dunia makin mahal. Begitu kata orang-orang. Katanya lagi bahan makanan ikut-ikutan mahal karena pengaruh minyak dunia dan juga karena global warming. Katanya sekarang lingkungan hidup makin kacau karena itu tanaman pangan pun kena akibatnya. Kan sekarang lagi ngetren global warming. Katanya lagi segala bencana yang terjadi di muka bumi ini gara-gara satu kata asing itu. Dan yang jelas semuanya itu ulah manusia begitu katanya. Kalau global warming ya itu sih tak begitu kupahami, tetapi kalau kekacauan ini ulah manusia itu sih setuju sekali.
Jadi semua orang harus mulai memikirkan bumi ini dengan berbagai cara. Salah satunya memperhatikan polusi yang dibuat oleh kendaraan yang berbahan bakar yang asalnya dari fosil. Sisa bahan bakar dari kendaraan yang berupa asap itu mengandung CO. Katanya lagi, gas itu semua menguap ke udara sampai sangat jenuh. Lha yang menyebabkan bumi makin panas dan gonjang-ganjing iki sajane sopo? Kami ini kan hanya wong cilik pembuat gorengan saja. Kami ndak ngerti apa itu global warming, tetapi yang kami rasakan bahwa hidup semakin sulit. Jadinya yang dikatakan dalam suluk dalang waktu wayangan kok jadi kenyataan, ya? Bumi gonjang-ganjing.
Lha, kula niku naming wong cilik. Bojone tukang gorengan, yang ndak pernah baca koran. Paling dengar berita dari tv, kata mbak penyiar yang ayu-ayu itu, memang segala sesuatu lagi tidak seimbang. Nah, itu dia akibat dari semua itu menimpa kami, keluarga tukang gorengan. Tentu saja aku tidak sendirian, itu sudah lama kutahu. Kami, wong cilik ini menjadi korban pertama dari semua situasi ini.
Tapi, yang mengherankan para penggede itu kok sepertinya tidak menyadari, apa lagi peduli pada keadaan ini. Mereka masih asyik dengan mainan masing-masing yang menghabiskan milyaran rupiah. Itu kata Mas Wahyu, mahasiswa yang jadi aktivis di kampusnya. Mas Wayu itu suka beli gorengan buatan suamiku tiap pagi sebelum kuliah.
Kalau menurut Mbak Ine, karyawati di sebuah pabrik benang, katanya memang kedaan negri kita tercinta itu sudah akut. Seperti lingkaran setan gitu katanya. Waduh, kok, ya menjadi tambah serem, ya? Tapi, walaupun tanah air kacau dan bumi makin panas pun, tukang gorengan seperti suamiku itu sangat dibutuhkan. Kenapa? Lha, semua orang dari kalangan dan kelas sosial apa pun suka gorengan, je! Mungkin aku ini ge-er karena bojone tukang gorengan. Tapi kenyataannya memang begitu kan? Coba siapa yang belum pernah makan gorengan di JABODETABEK bahkan seantero tanah air tercinta ini? Tukang gorengan itu setiap saat dibutuhkan. Pagi, siang, sore, bahkan malam hari pun masih ada yang mencari gorengan.
Nah, karena itu aku bingung, kok belanja ngubek-ngubek pasar Serpong, kok semuanya mahal. Aduh, alamat diprotes langganan ini namanya. Padahal, buruh pabrik benang itu sarapannya makan gorengan. Nanti makan siang lauknya juga gorengan. Belum lagi pelajar SMP-SMA yang naik angkot juga suka beli gorengan untuk ngemil sambil bercengkarama dengan temannya. Bahkan, ibu-ibu yang bekerja di kantor dekat suamiku mangkal itu, kalau istirahat suka borong gorengan. Bagaimana jadinya nanti. Padahal lagi, tempe tahu itu makanan favorit lho! Kata Bu Dokter di Puskesmas dekat kontrakanku, katanya sumber gizi masyarakat yang murah dan sehat. Tapi sekarang akan berubah. Waduhhh….
Karena sudah sudah siang, akhirnya kuputuskan untuk pulang ke rumah dengan belanja seadanya sesuai uang modal belanja. Kasihan Mas Karmin, akan diprotes langganannya karena harga gorengan tambah mahal. Kasihan anak-anak, uang sekolahnya akan telat lagi. Kasihan si bungsu, susunya akan tambah diencerkan dengan ditambah air banyak-banyak. Kasihan Pak Haji, uang kontrakannya akan nunggak lagi. Wah… kok, gara-gara harga minyak dan gombal warming tadi jadinya merembet ke mana-mana, ya.
Mas Karmin sudah membereskan perangkatnya. Berangkat dengan gerobaknya. Siap mangkal dengan bahan ala kadarnya. Mas Karmin orangnya jujur. Tak mau meniru temannya yang suka mencampur minyak lama yang rupane wis ora karuan dengan minyak baru. Katanya biar ngirit. Prinsip Mas Karmin itu namanya curang. Yen curang kuwi ora apik. Temannya juga mencemplungkan plastik bekas bungkus minyak ke dalam mimyak yang panas. Katanya biar gorengannya kemeripik. Mas Karmin tak mau melakukannya karena itu ora becik, dosa, meracuni pangan, hukumnya dosa. Mas Karmin adalah tukang gorengan yang paling kukagumi. Dia lelaki jujur. Dan tentu saja dia suami yang baik. Bagiku dia adalah lelaki lelanang jagat.
Aku mengantarkan Mas Karmin sampai pintu gang. Kembali ke rumah petak kami untuk beres-beres. Ini kulakukan pada saat semua sudah beres, duduk di tikar dan bersandar di tembok sambil menyelonjorkan kaki. Si Bungsu sudah tidur, kedua kakaknya sekolah, Mas Karmin masih jualan, dan pekerjaan rumah sudah selesai. Dalam diamku aku melipat tangan dan matur kepada yang Maha Kuasa:
Gusti Allah, Yang Maha Murah,
Segala barang di pasar tak ada yang murah
Harga tak bersahabat lagi
Ya Allah, Engkau yang menciptakan alam raya
Yang kaya raya
Bantulah kami untuk bertahan dalam situasi sulit seperti ini
Untuk memperjuangkan hidup yang sudah Engkau beri
Meski semua barang harganya mahal, tapi biarlah iman kami tetap kuat
Dagangan Mas Karmin tetap bisa laku agar kami bisa melanjutkan kehidupan kami
Ingatkan kami selalu untuk selalu memelihara iman di antara harga tepung, minyak goreng, sayuran, dan kedelai yang kian naik.
Engkau memahami kesusahan ini
Mohon kekuatanmu untuk supaya kami bisa melalui ini semua dengan sesantiasa mengucap syukur.
Biarlah harapan menjadi kekuatan bagi kami untuk senantiasa berjuang dengan penuh semangat. Amin.
Dalam diam dan tanganku yang terkatup aku melebur bersama semesta untuk sampai kepada yang Maha Tinggi melepaskan segala beban. Doaku mengambang dalam udara yang beraroma pengap, menembusnya dan menggelepar untuk sampai pada tujuanya. Aku duduk, meski dalam pengap, aku selalu punya harapan bisa melalui satu hari saja tanpa rasa khawatir. Hari esok tak perlu terlalu dirisaukan, tetapi perlu dipikirkan. Karena yang aku tahu risau tak menyelesaikan kesusahan.
Semoga dagangan Mas Karmin bisa cepat laku. Hari ini biar dia bisa cepat pulang dan istirahat.
Bila hujan turun dan sedang sendirian, aku terkenang kepada Anatolia. Gadis kecil berusia enam tahun itu adalah putri seorang perempuan muda berwajah cantik. Zaitun namanya. Mereka tinggal di rumah sewaan yang bagus, beberapa meter di depan rumahku. Di rumah itu tidak ada lelaki yang tinggal menetap. Sopir yang mengantar-jemput Anatolia datang pagi, pulang sore. Ayah Si Anatolia tak pernah menampakkan batang hidungnya. Kini, rumah itu sunyi.
Sepanjang siang hari Minggu itu Anatolia tidak muncul di rumahku. Sejak pukul sepuluh pagi, dia menghadiri pesta ulang tahun Sofia, teman sebangkunya. Sore Minggu, Anatolia diantar ke rumahku oleh Uun, si pembantu rumah tangga yang telaten dan setia. Seperti tidak sabar, Anatolia meminta kepadaku bercerita tentang hujan.
”Paman, ceritalah tentang hujan,” pintanya sekali lagi.
”Ada apa dengan hujan?” tanyaku sambil memandangi hujan yang semakin deras. Pintu kubuka lebar agar ruangan menjadi terang. Jadi, aku tidak perlu menyalakan lampu.
Murid kelas satu sekolah dasar itu berpaling ke arah hujan. Dia mendengarkan nyanyian hujan di atap genting, daun, ranting, dahan, dan pepohonan. Rintik-rintik hujan itu bernada sendu. Suatu elegi, pikirku. Wajah imut Anatolia, sejak bertemu denganku selalu murung. Tatapan matanya pun sayu. Anak perempuan yang sedang tumbuh itu merindukan seseorang. Dia pun sangat membutuhkan kasih sayang.
Sering aku membayangkan, butiran-butiran hujan punya kaki kecil. Mereka selalu bersatu dan berbaris rapi. Makanya mereka menjadi sangat kuat. Jutaan butiran hujan menyelinap di antara akar-akar pepohonan di hutan, meresap, kemudian menetap di perut bumi. Tabungan air itu sangat bermanfaat bila tiba musim kemarau panjang. Kaki-kaki kecil hujan yang kuat itu tidak seperti kedua kaki Anatolia. Kaki anak itu tak bebas melangkah, sesuai kemauannya. Zaitun selalu melarangnya meninggalkan rumah. Kata Zaitun, di luar rumah, Ana bisa diculik orang jahat. Tetapi, setelah setahun bertetangga denganku, Zaitun mengizinkan Anatolia bermain di rumahku pada hari libur. Tentu saja, perawan kecil itu harus diantar Uun, bila Zaitun tidak di rumah.
Jika agak lama tidak bertemu Anatolia, kurasa ada yang hilang. Gadis kecil berwajah bulat telur dan berkulit kuning itu telah menjadi bagian dari hidupku. Di kantor, aku sering bercerita kepada kawan-kawan akrabku tentang Anatolia. Lantas, teman-temanku terkekeh. Mereka menduga, aku dan Zaitun, si cantik dan pintar itu, ada hubungan khusus. Kubantah: Aku hanya bersahabat dengan Anatolia! Tidak dengan ibunya! Hanya sekali aku bertemu dengan Zaitun, yakni ketika datang untuk berkenalan, awal tahun lalu.
”Ceritalah tentang hujan, Paman,” pinta Anatolia sekali lagi.
Dengan senang hati, kuceritakan ihwal terjadinya hujan: Mula-mula, sinar matahari memanaskan air sehingga berubah menjadi uap. Udara lembab yang hangat itu menjulang tinggi dan di atas menjadi dingin. Uap itu berubah menjadi butiran-butiran kecil air, yang dingin mengembun. Kemudian, terbentuklah gumpalan-gumpalan awan di langit. Titik-titik air di dalam awan itu menjadi semakin besar dan berat, lalu jatuh ke bumi sebagai hujan. Tiga perempat bagian hujan itu jatuh kembali ke lautan. Seperempatnya, jatuh di daratan.
Anatolia bertanya lagi, ”Paman, apakah hujan baik bagi makhluk hidup?” Kujawab, tentu saja hujan baik bagi semua makhluk hidup. Manusia dan hewan memerlukan air untuk minum dan mandi. Air pun digunakan manusia untuk mencuci pakaian, mobil, motor, sepeda, dan keperluan lain. Air hujan akan menyuburkan tanah. Bila tanah subur, tumbuhan apa pun hidup subur, segar, berseri, dan berguna bagi sesama hidup.
Anatolia bertanya pula, jika baik bagi semua makhluk, mengapa hujan menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor? Banjir bandang dan tanah longsor menyebabkan manusia dan makhluk lain menderita, dan benda-benda rusak, katanya.
Yakinlah, kataku, hujan tidak pernah jahat kepada makhluk hidup. Banjir bandang dan tanah longsor bukanlah kesalahan hujan! Bila hutan-hutan gundul setelah ditebangi secara liar oleh manusia, bisa terjadi banjir bandang dan tanah longsor. Banjir bandang dan tanah longsor pun bisa terjadi bila gedung-gedung jangkung telah berdiri rapat di tanah-tanah kosong, di banyak tempat. Sampah-sampah yang mengotori selokan, danau, sungai, dan laut, pun merupakan penyebab banjir. Jadi, bencana banjir bandang dan tanah longsor adalah kesalahan manusia, kataku tegas.
”Paman, ceritalah tentang teman-teman hujan,” pinta Anatolia pula. Kata Anatolia, Olga, teman sekelasnya pandai bercerita tentang katak yang menyanyi ramai-ramai untuk meminta hujan segera turun. Katak-katak itu menyanyi pada musim kemarau. Anatolia ingin mendengar cerita tentang teman-teman hujan yang lain lagi.
Selain katak, kataku, teman-teman hujan adalah manusia, hewan lain, dan tumbuh-tumbuhan. Hutan, belukar, sungai, danau, dan lautan adalah teman-teman hujan juga, lanjutku.
”Apa lagi cerita tentang hujan, Paman?” tanya Anatolia pula.
Suku Indian Aztec di Amerika Tengah memuja dewa hujan bernama Tlaloc, ceritaku. Suku-suku Indian di Amerika Utara melakukan tarian khusus agar para roh mengirim hujan ke negeri mereka untuk menyuburkan tanah pertanian. Apabila musim kemarau sangat panjang, biasanya umat Islam shalat sunah Istiqarah berjamaah untuk memohon kepada Allah Swt agar hujan turun ke bumi, sambungku. Umat agama yang lain pun berdoa, memohon kepada Tuhan agar hujan turun di musim kemarau, lanjutku.
Suhu adalah panas di udara, di sekeliling kita, lanjutku. Panas itu berasal dari matahari. Nah, ketika suhu sangat rendah, bukan hujan yang turun ke bumi, tetapi badai salju, bongkahan es, atau hujan salju, aku menyambung cerita.
”Apakah hujan salju turun di Jakarta, Paman?” Anatolia bertanya lagi.
”Paman belum pernah melihat hujan salju turun di Jakarta, Sayang,” jawabku.
Pada suatu hari Sabtu siang, aku berkunjung ke rumah Anatolia untuk kedua kalinya. Zaitun masih tugas di Korea Selatan. Sopir sedang mengantar Anatolia les piano. Hanya ada Uun di rumah itu. Kutanya Uun, mengapa ayah Anatolia pergi? Uun mau cerita, asal aku janji, tidak akan bilang kepada Zaitun dan Anatolia. Aku berjanji kepadanya, tidak akan cerita kepada siapa-siapa.
Uun bercerita, setelah menjenguk ke luar: Ayah Anatolia pergi setelah diusir Zaitun, katanya. Ketika itu, Anatolia akan ulang tahun ke-5, di rumah sewaan lama. Setelah tidak bekerja di perusahaan asing karena diberhentikan, ayah Anatolia menganggur. Akibat menganggur cukup lama, dia mudah tersinggung, pencemburu, suka marah-marah dengan kata-kata kasar. Ketika itu, ayah Anatolia membentak-bentak Zaitun. Lelaki itu minta uang lagi untuk membeli minuman keras. Tetapi, Zaitun menolak permintaan Uto. Ketika Uto hendak menempeleng Zaitun, Anatolia membela ibunya. Anak itu menggigit paha kanan ayahnya. Anak itu pun dibentak sang ayah dengan suara menggelegar. Ayah Anatolia diberhentikan dari pekerjaan karena ketahuan menggunakan uang perusahaan untuk berjudi, pesta-pesta, dan mabuk-mabukan, lanjut Uun.
Ayah Anatolia sejak pergi tidak pernah kembali, cerita Uun. Zaitun adalah majikan yang baik hati, Uun melanjutkan ceritanya. Beliau bekerja di perusahaan otomotif milik pengusaha Korea Selatan. Zaitun bergelar sarjana teknik jurusan mesin. Jabatannya tinggi di perusahaan otomotif besar itu. Zaitun selalu pulang malam. Beliau sering pula ditugaskan ke luar negeri. Anatolia menanyakan ibunya, bila Zaitun lama tidak pulang. Sering sekali Anatolia menangis bila terbangun di malam hari, lanjut Uun.
Anatolia yang berotak cerdas itu sempat bertanya kepadaku, mengapa Paman sendirian saja di rumah? Kujawab, aku belum punya istri. Apakah Paman enggak merasa sepi? Anatolia bertanya pula. Tentu saja sepi, jawabku. Tapi, Paman senang bikin cerita, membaca, lari pagi, seusai shalat Subuh, memasak, berkebun, dan nonton film bagus, tambahku.Suatu hari Minggu, senja bergerimis. Aku dikejutkan suara perempuan mengucapkan salam di pintu gerbang. Di luar pagar berdiri Zaitun. Dia mengembangkan payung berdaun lebar. Wajah perempuan itu sangat pucat. Matanya sembab dan biru. Aku buru-buru membuka gembok pintu pagar. Kusilakan dia masuk. Zaitun memayungiku ketika aku menarik pintu gerbang. Serempak kami menuju ruang tamu.Ada sedikit oleh-oleh, kata Zaitun sebelum duduk di sofa. Ia menyerahkan satu botol besar terbungkus kertas berkilap warna coklat. Isi botol itu adalah minuman bervitamin untuk penyegar tubuh dari negeri Korea, yakni air ginseng campur madu. Terima kasih, kataku setelah menyambut oleh-olehnya dari Korea Selatan itu. Kusilakan dia duduk. Tak lupa aku menanyakan, mengapa Anatolia tidak diajak? Zaitun terkejut setelah mendengar pertanyaanku. Dia menatapku dengan penuh curiga.”Aku yakin, Anatolia ada di sini,” kata Zaitun. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang. ”Jadi, anakku tidak di sini?” Dia menyangka, aku menyembunyikan anaknya di rumahku.Zaitun mengatakan, Anatolia pergi dari rumah, ketika dia sedang ke kantor. Anatolia tidak mau diajak pindah ke Korea Selatan, cerita Zaitun. Dia takut kepada Uto Kwon Lee, ayahnya. Hati-hati kubilang kepada Anatolia sebelum tidur tadi malam, aku dan Uto akan memperbaiki rumah tangga yang sempat retak. Uto sudah minta maaf. Dia menyesali semua perbuatan salahnya. Uto telah bertobat kepada Tuhan. Dia berjanji akan menjadi suami yang baik bagiku dan ayah yang pengasih-penyayang bagi Anatolia. Aku merenung selama sebulan, lalu memaafkannya. Anatolia yang selalu patuh kepadaku, tiba-tiba jadi pembangkang, lanjutnya sambil menyeka air mata.Anatolia takut kepada Uto Kwon Lee, kata Zaitun. Anatolia selalu ingat, saat akan merayakan ulang tahunnya yang ke-5, dulu. Ayahnya tidak memberikan hadiah ulang tahun seperti biasanya, tetapi marah dengan suara kasar. Zaitun pamit, tapi terus menangis. Sekujur tubuhnya gemetar. Dia sangat panik. Dia khawatir, gadis kecilnya telah diculik orang jahat. Rasa waswas pun menyelinap dalam hatiku.Malamnya, seiring rintik-rintik gerimis, kudengar orang mengucapkan salam di luar pagar. Segera kuraih payung. Pintu kubuka. Di luar pagar tampak olehku seorang lelaki dewasa dan dua gadis kecil. Buru-buru aku membuka gembok pintu gerbang.”Eh, Anatolia!” teriakku ketika melihat gadis kecil itu bersama anak perempuan sebayanya di bawah payung lebar. Payung itu dipegang lelaki dewasa. Anatolia mengenalkan Sofia dan ayahnya, Pak Arif. Di ruang tamu, Anatolia bercerita. Dia ke rumah Sofia seusai les piano, tanpa diantar sopir. Pak Sopir lagi sakit. Ibu Sofia melarang Anatolia pulang sendirian. Sepulang dari kantor, seusai shalat Isya, Pak Arif dan Sofia mengantar Anatolia ke rumahku atas permintaan anak itu. Dia takut dimarahi ibunya. Setelah Pak Arif dan Sofia pamit, kuajak Anatolia makan sup telur puyuh hangat, masakanku. Dia menolak karena masih kenyang setelah makan bakso dan minum susu di rumah Sofia.Satu jam lebih aku membujuk Anatolia agar mau pulang ke rumahnya. Kuceritakan tentang kedatangan Zaitun ke rumahku. Ibumu sangat panik dan sedih. ”Tapi, aku tidak mau ikut Ibu ke Korea Selatan!” Anatolia berteriak. ”Aku takut kepada Ayah,” lanjutnya sambil memelukku erat-erat.Cerita Zaitun tentang penyesalan Uto Kwon Lee kuulangi. Lelaki itu akan menyayangi Anatolia. Dia pun berjanji akan menjadi suami yang baik bagi Zaitun. Lalu, kubujuk Anatolia agar segera pulang. Ibumu sangat takut kehilangan kamu, bisikku lembut. Setelah lama terdiam, perlahan muncul senyum samar-samar di wajah cantiknya. Paman mau mengantarkan aku pulang? Dia bertanya. Aku mengangguk. Kalau Ibu marah, bagaimana? Anatolia bertanya lagi. Kamu berkata jujur saja kepada Ibu, kataku. Kalau kamu merasa punya salah, minta maaf, ya? Paman yakin sekali, Ibu tidak marah lagi, kataku. Kudengar petir menggelegar di luar. Hujan semakin deras. Angin bertambah kencang. Televisi memberitakan, badai sedang mengamuk di pantai, malam itu.Pukul delapan malam, kuantar Anatolia dengan mobil kijang tuaku ke rumahnya. Zaitun meraung, memeluk, dan menciumi anaknya. Ketika aku pamit, Anatolia berlari ke arahku. Dia menangis sambil merangkulku. Kubelai rambut lurusnya dan kuyakinkan dia bahwa Uto, ayahnya sangat merindukannya.
”Kalau aku ikut Ibu ke Korea Selatan, siapa menemani Paman?” Anatolia bertanya dengan lugu sambil menatapku.”Eh, em, di kantor, ada teman-teman Paman,” jawabku gugup, tertahan-tahan.Hari Minggu ini, hujan pun turun. Rumah sewaan di seberang sana kosong dan sepi. Aku terkenang kepada Anatolia. Sudah lama dia bersama orangtuanya di Korea Selatan. Bila gadis kecil itu minta cerita tentang hujan, kuharap ayah-ibunya dapat memenuhi keinginannya dengan senang hati….
Sepanjang siang hari Minggu itu Anatolia tidak muncul di rumahku. Sejak pukul sepuluh pagi, dia menghadiri pesta ulang tahun Sofia, teman sebangkunya. Sore Minggu, Anatolia diantar ke rumahku oleh Uun, si pembantu rumah tangga yang telaten dan setia. Seperti tidak sabar, Anatolia meminta kepadaku bercerita tentang hujan.
”Paman, ceritalah tentang hujan,” pintanya sekali lagi.
”Ada apa dengan hujan?” tanyaku sambil memandangi hujan yang semakin deras. Pintu kubuka lebar agar ruangan menjadi terang. Jadi, aku tidak perlu menyalakan lampu.
Murid kelas satu sekolah dasar itu berpaling ke arah hujan. Dia mendengarkan nyanyian hujan di atap genting, daun, ranting, dahan, dan pepohonan. Rintik-rintik hujan itu bernada sendu. Suatu elegi, pikirku. Wajah imut Anatolia, sejak bertemu denganku selalu murung. Tatapan matanya pun sayu. Anak perempuan yang sedang tumbuh itu merindukan seseorang. Dia pun sangat membutuhkan kasih sayang.
Sering aku membayangkan, butiran-butiran hujan punya kaki kecil. Mereka selalu bersatu dan berbaris rapi. Makanya mereka menjadi sangat kuat. Jutaan butiran hujan menyelinap di antara akar-akar pepohonan di hutan, meresap, kemudian menetap di perut bumi. Tabungan air itu sangat bermanfaat bila tiba musim kemarau panjang. Kaki-kaki kecil hujan yang kuat itu tidak seperti kedua kaki Anatolia. Kaki anak itu tak bebas melangkah, sesuai kemauannya. Zaitun selalu melarangnya meninggalkan rumah. Kata Zaitun, di luar rumah, Ana bisa diculik orang jahat. Tetapi, setelah setahun bertetangga denganku, Zaitun mengizinkan Anatolia bermain di rumahku pada hari libur. Tentu saja, perawan kecil itu harus diantar Uun, bila Zaitun tidak di rumah.
Jika agak lama tidak bertemu Anatolia, kurasa ada yang hilang. Gadis kecil berwajah bulat telur dan berkulit kuning itu telah menjadi bagian dari hidupku. Di kantor, aku sering bercerita kepada kawan-kawan akrabku tentang Anatolia. Lantas, teman-temanku terkekeh. Mereka menduga, aku dan Zaitun, si cantik dan pintar itu, ada hubungan khusus. Kubantah: Aku hanya bersahabat dengan Anatolia! Tidak dengan ibunya! Hanya sekali aku bertemu dengan Zaitun, yakni ketika datang untuk berkenalan, awal tahun lalu.
”Ceritalah tentang hujan, Paman,” pinta Anatolia sekali lagi.
Dengan senang hati, kuceritakan ihwal terjadinya hujan: Mula-mula, sinar matahari memanaskan air sehingga berubah menjadi uap. Udara lembab yang hangat itu menjulang tinggi dan di atas menjadi dingin. Uap itu berubah menjadi butiran-butiran kecil air, yang dingin mengembun. Kemudian, terbentuklah gumpalan-gumpalan awan di langit. Titik-titik air di dalam awan itu menjadi semakin besar dan berat, lalu jatuh ke bumi sebagai hujan. Tiga perempat bagian hujan itu jatuh kembali ke lautan. Seperempatnya, jatuh di daratan.
Anatolia bertanya lagi, ”Paman, apakah hujan baik bagi makhluk hidup?” Kujawab, tentu saja hujan baik bagi semua makhluk hidup. Manusia dan hewan memerlukan air untuk minum dan mandi. Air pun digunakan manusia untuk mencuci pakaian, mobil, motor, sepeda, dan keperluan lain. Air hujan akan menyuburkan tanah. Bila tanah subur, tumbuhan apa pun hidup subur, segar, berseri, dan berguna bagi sesama hidup.
Anatolia bertanya pula, jika baik bagi semua makhluk, mengapa hujan menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor? Banjir bandang dan tanah longsor menyebabkan manusia dan makhluk lain menderita, dan benda-benda rusak, katanya.
Yakinlah, kataku, hujan tidak pernah jahat kepada makhluk hidup. Banjir bandang dan tanah longsor bukanlah kesalahan hujan! Bila hutan-hutan gundul setelah ditebangi secara liar oleh manusia, bisa terjadi banjir bandang dan tanah longsor. Banjir bandang dan tanah longsor pun bisa terjadi bila gedung-gedung jangkung telah berdiri rapat di tanah-tanah kosong, di banyak tempat. Sampah-sampah yang mengotori selokan, danau, sungai, dan laut, pun merupakan penyebab banjir. Jadi, bencana banjir bandang dan tanah longsor adalah kesalahan manusia, kataku tegas.
”Paman, ceritalah tentang teman-teman hujan,” pinta Anatolia pula. Kata Anatolia, Olga, teman sekelasnya pandai bercerita tentang katak yang menyanyi ramai-ramai untuk meminta hujan segera turun. Katak-katak itu menyanyi pada musim kemarau. Anatolia ingin mendengar cerita tentang teman-teman hujan yang lain lagi.
Selain katak, kataku, teman-teman hujan adalah manusia, hewan lain, dan tumbuh-tumbuhan. Hutan, belukar, sungai, danau, dan lautan adalah teman-teman hujan juga, lanjutku.
”Apa lagi cerita tentang hujan, Paman?” tanya Anatolia pula.
Suku Indian Aztec di Amerika Tengah memuja dewa hujan bernama Tlaloc, ceritaku. Suku-suku Indian di Amerika Utara melakukan tarian khusus agar para roh mengirim hujan ke negeri mereka untuk menyuburkan tanah pertanian. Apabila musim kemarau sangat panjang, biasanya umat Islam shalat sunah Istiqarah berjamaah untuk memohon kepada Allah Swt agar hujan turun ke bumi, sambungku. Umat agama yang lain pun berdoa, memohon kepada Tuhan agar hujan turun di musim kemarau, lanjutku.
Suhu adalah panas di udara, di sekeliling kita, lanjutku. Panas itu berasal dari matahari. Nah, ketika suhu sangat rendah, bukan hujan yang turun ke bumi, tetapi badai salju, bongkahan es, atau hujan salju, aku menyambung cerita.
”Apakah hujan salju turun di Jakarta, Paman?” Anatolia bertanya lagi.
”Paman belum pernah melihat hujan salju turun di Jakarta, Sayang,” jawabku.
Pada suatu hari Sabtu siang, aku berkunjung ke rumah Anatolia untuk kedua kalinya. Zaitun masih tugas di Korea Selatan. Sopir sedang mengantar Anatolia les piano. Hanya ada Uun di rumah itu. Kutanya Uun, mengapa ayah Anatolia pergi? Uun mau cerita, asal aku janji, tidak akan bilang kepada Zaitun dan Anatolia. Aku berjanji kepadanya, tidak akan cerita kepada siapa-siapa.
Uun bercerita, setelah menjenguk ke luar: Ayah Anatolia pergi setelah diusir Zaitun, katanya. Ketika itu, Anatolia akan ulang tahun ke-5, di rumah sewaan lama. Setelah tidak bekerja di perusahaan asing karena diberhentikan, ayah Anatolia menganggur. Akibat menganggur cukup lama, dia mudah tersinggung, pencemburu, suka marah-marah dengan kata-kata kasar. Ketika itu, ayah Anatolia membentak-bentak Zaitun. Lelaki itu minta uang lagi untuk membeli minuman keras. Tetapi, Zaitun menolak permintaan Uto. Ketika Uto hendak menempeleng Zaitun, Anatolia membela ibunya. Anak itu menggigit paha kanan ayahnya. Anak itu pun dibentak sang ayah dengan suara menggelegar. Ayah Anatolia diberhentikan dari pekerjaan karena ketahuan menggunakan uang perusahaan untuk berjudi, pesta-pesta, dan mabuk-mabukan, lanjut Uun.
Ayah Anatolia sejak pergi tidak pernah kembali, cerita Uun. Zaitun adalah majikan yang baik hati, Uun melanjutkan ceritanya. Beliau bekerja di perusahaan otomotif milik pengusaha Korea Selatan. Zaitun bergelar sarjana teknik jurusan mesin. Jabatannya tinggi di perusahaan otomotif besar itu. Zaitun selalu pulang malam. Beliau sering pula ditugaskan ke luar negeri. Anatolia menanyakan ibunya, bila Zaitun lama tidak pulang. Sering sekali Anatolia menangis bila terbangun di malam hari, lanjut Uun.
Anatolia yang berotak cerdas itu sempat bertanya kepadaku, mengapa Paman sendirian saja di rumah? Kujawab, aku belum punya istri. Apakah Paman enggak merasa sepi? Anatolia bertanya pula. Tentu saja sepi, jawabku. Tapi, Paman senang bikin cerita, membaca, lari pagi, seusai shalat Subuh, memasak, berkebun, dan nonton film bagus, tambahku.Suatu hari Minggu, senja bergerimis. Aku dikejutkan suara perempuan mengucapkan salam di pintu gerbang. Di luar pagar berdiri Zaitun. Dia mengembangkan payung berdaun lebar. Wajah perempuan itu sangat pucat. Matanya sembab dan biru. Aku buru-buru membuka gembok pintu pagar. Kusilakan dia masuk. Zaitun memayungiku ketika aku menarik pintu gerbang. Serempak kami menuju ruang tamu.Ada sedikit oleh-oleh, kata Zaitun sebelum duduk di sofa. Ia menyerahkan satu botol besar terbungkus kertas berkilap warna coklat. Isi botol itu adalah minuman bervitamin untuk penyegar tubuh dari negeri Korea, yakni air ginseng campur madu. Terima kasih, kataku setelah menyambut oleh-olehnya dari Korea Selatan itu. Kusilakan dia duduk. Tak lupa aku menanyakan, mengapa Anatolia tidak diajak? Zaitun terkejut setelah mendengar pertanyaanku. Dia menatapku dengan penuh curiga.”Aku yakin, Anatolia ada di sini,” kata Zaitun. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang. ”Jadi, anakku tidak di sini?” Dia menyangka, aku menyembunyikan anaknya di rumahku.Zaitun mengatakan, Anatolia pergi dari rumah, ketika dia sedang ke kantor. Anatolia tidak mau diajak pindah ke Korea Selatan, cerita Zaitun. Dia takut kepada Uto Kwon Lee, ayahnya. Hati-hati kubilang kepada Anatolia sebelum tidur tadi malam, aku dan Uto akan memperbaiki rumah tangga yang sempat retak. Uto sudah minta maaf. Dia menyesali semua perbuatan salahnya. Uto telah bertobat kepada Tuhan. Dia berjanji akan menjadi suami yang baik bagiku dan ayah yang pengasih-penyayang bagi Anatolia. Aku merenung selama sebulan, lalu memaafkannya. Anatolia yang selalu patuh kepadaku, tiba-tiba jadi pembangkang, lanjutnya sambil menyeka air mata.Anatolia takut kepada Uto Kwon Lee, kata Zaitun. Anatolia selalu ingat, saat akan merayakan ulang tahunnya yang ke-5, dulu. Ayahnya tidak memberikan hadiah ulang tahun seperti biasanya, tetapi marah dengan suara kasar. Zaitun pamit, tapi terus menangis. Sekujur tubuhnya gemetar. Dia sangat panik. Dia khawatir, gadis kecilnya telah diculik orang jahat. Rasa waswas pun menyelinap dalam hatiku.Malamnya, seiring rintik-rintik gerimis, kudengar orang mengucapkan salam di luar pagar. Segera kuraih payung. Pintu kubuka. Di luar pagar tampak olehku seorang lelaki dewasa dan dua gadis kecil. Buru-buru aku membuka gembok pintu gerbang.”Eh, Anatolia!” teriakku ketika melihat gadis kecil itu bersama anak perempuan sebayanya di bawah payung lebar. Payung itu dipegang lelaki dewasa. Anatolia mengenalkan Sofia dan ayahnya, Pak Arif. Di ruang tamu, Anatolia bercerita. Dia ke rumah Sofia seusai les piano, tanpa diantar sopir. Pak Sopir lagi sakit. Ibu Sofia melarang Anatolia pulang sendirian. Sepulang dari kantor, seusai shalat Isya, Pak Arif dan Sofia mengantar Anatolia ke rumahku atas permintaan anak itu. Dia takut dimarahi ibunya. Setelah Pak Arif dan Sofia pamit, kuajak Anatolia makan sup telur puyuh hangat, masakanku. Dia menolak karena masih kenyang setelah makan bakso dan minum susu di rumah Sofia.Satu jam lebih aku membujuk Anatolia agar mau pulang ke rumahnya. Kuceritakan tentang kedatangan Zaitun ke rumahku. Ibumu sangat panik dan sedih. ”Tapi, aku tidak mau ikut Ibu ke Korea Selatan!” Anatolia berteriak. ”Aku takut kepada Ayah,” lanjutnya sambil memelukku erat-erat.Cerita Zaitun tentang penyesalan Uto Kwon Lee kuulangi. Lelaki itu akan menyayangi Anatolia. Dia pun berjanji akan menjadi suami yang baik bagi Zaitun. Lalu, kubujuk Anatolia agar segera pulang. Ibumu sangat takut kehilangan kamu, bisikku lembut. Setelah lama terdiam, perlahan muncul senyum samar-samar di wajah cantiknya. Paman mau mengantarkan aku pulang? Dia bertanya. Aku mengangguk. Kalau Ibu marah, bagaimana? Anatolia bertanya lagi. Kamu berkata jujur saja kepada Ibu, kataku. Kalau kamu merasa punya salah, minta maaf, ya? Paman yakin sekali, Ibu tidak marah lagi, kataku. Kudengar petir menggelegar di luar. Hujan semakin deras. Angin bertambah kencang. Televisi memberitakan, badai sedang mengamuk di pantai, malam itu.Pukul delapan malam, kuantar Anatolia dengan mobil kijang tuaku ke rumahnya. Zaitun meraung, memeluk, dan menciumi anaknya. Ketika aku pamit, Anatolia berlari ke arahku. Dia menangis sambil merangkulku. Kubelai rambut lurusnya dan kuyakinkan dia bahwa Uto, ayahnya sangat merindukannya.
”Kalau aku ikut Ibu ke Korea Selatan, siapa menemani Paman?” Anatolia bertanya dengan lugu sambil menatapku.”Eh, em, di kantor, ada teman-teman Paman,” jawabku gugup, tertahan-tahan.Hari Minggu ini, hujan pun turun. Rumah sewaan di seberang sana kosong dan sepi. Aku terkenang kepada Anatolia. Sudah lama dia bersama orangtuanya di Korea Selatan. Bila gadis kecil itu minta cerita tentang hujan, kuharap ayah-ibunya dapat memenuhi keinginannya dengan senang hati….
Lindu
Cerpen Zainal Arifin Thoha
Sunday, 27 May 2007, Rubrikasi – Budaya
SUDAH hampir sebulan ini, burung gagak berkaok-kaok mengitari daerah kami, terutama di malam hari. Konon, kata para sesepuh, bila burung gagak berkaok-kaok di malam hari, seperti itu, adalah pertanda akan ada kematian. Tetapi, fenomena burung gagak itu tak hanya terjadi di daerah kami saja, melainkan di daerah lain, menurut kawan saya, juga acap terdengar.
Bagi kami, antara percaya dan tidak dengan pertanda alam itu, merupakan hal lumrah, lantaran antara kami dengan generasi masa lalu terpaut jauh dalam hal keyakinan ataupun ilmu titen.
Tapi nyatanya, Mbah Imam, sesepuh masjid yang juga abdi dalem keraton menangkap isyarat lain. Itu sebabnya, hampir saban hari ia membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani. Ketika saya tanyakan kepadanya, untuk apa membaca Manaqib seperti itu, Mbah Imam menjawab untuk keselamatan. Bagi siapa? Ya, bagi diri sendiri, keluarga, para tetangga, serta masyarakat pada umumnya.
Nah, ketika Lindu terjadi di hari Sabtu pagi itu, saya teringat dengan aktivitas yang dilakukan Mbah Imam. Bagaimana kabar beliau? Sebab yang saya lihat dari berita televisi, rumah-rumah di daerah Mbah Imam telah luluh lantak, bahkan beberapa orang menjadi korban dari bencana itu.
Saya sendiri, bersama keluarga, sehari sebelum lindu atau gempa itu terjadi, telah pergi ke Jawa Timur, selain untuk suatu acara juga kangen dengan orang tua. Maka demi mendengar Yogya digoyang gempa, kami segera balik. Sesampainya di Yogya, saya segera meluncur ke rumah Mbah Imam. Namun, yang saya dapati hanya rumah beliau yang utuh, sedangkan Mbah Imam sendiri menurut informasi yang saya dapatkan dari tetangganya, tengah pergi ke rumahnya yang berada di gunung daerah barat.
Sepanjang perjalanan menuju dan balik dari rumah Mbah Imam, saya menyaksikan rumah-rumah yang berobohan, hanya tinggal puing-puing. Begitu pula, saya dapati, keluarga-keluarga yang hidup di tenda-tenda darurat. Pada saat seperti itulah, teringat dengan apa yang disampaikan seorang kiai muda yang saya temui di Kediri saat bencana Yogya terjadi.
”Bencana itu memang tak bisa dihindarkan,” ucapnya.
”Mengapa?”
”Ya, karena memang sudah saatnya, dan semuanya itu ada hubungannya dengan ulah manusia sendiri.”
”Maksudnya?”
”Alam sudah tak lagi sabar menyaksikan tingkah polah manusia.”
”Mengapa yang banyak menjadi korban rakyat kecil?”
”Para korban itu, sebenarnya justru diselamatkan, utamanya dari bencana yang lebih besar.”
”Maksud bencana yang lebih besar?”
”Saya sendiri tidak begitu tahu. Menurut guru saya, kurang lebih sebulan sebelum bencana itu terjadi, beliau ditemui Nyai Roro Kidul yang mengabarkan akan datangnya lindu yang akan banyak menelan korban.”
”Lantas, mengapa…” saya belum sempat menyelesaikan kalimat.
”Iya, sebenarnya guru saya telah mencoba berunding dan juga berdoa kepada Tuhan, namun lindu itu memang sudah waktunya terjadi, tak bisa dielakkan. Bahkan, kata beliau, bencana akan terus terjadi hingga tahun 2010, di mana-mana di negeri ini.”
”Terus,” saya bertambah penasaran.
”Menurut saya sendiri, yang dimaksud bencana lebih besar itu, tidak lain adalah bencana akidah, bencana moral, bencana iman. Mereka, para korban itu, telah diselamatkan Allah dari bencana yang jauh lebih berbahaya. Sebab rusaknya iman, rusaknya moral, jauh lebih berbahaya dari bencana.”
Ya, apa yang disampaikan kiai muda yang saya temui di Kediri itu masih terus terngiang, terbayang-bayang, hingga saya sampai di rumah kembali. Kepada istri, saya sampaikan bahwa Mbah Imam tak berhasil saya temui.
Anehnya, sore tatkala saya masih tertidur kecapekan, Mbah Imam telah hadir di rumah kami.
”Bukankah Mbah Imam pergi ke gunung di barat?” tanya saya pada beliau.
”Benar, saya memang nyambangi keluarga dan saudara saya di sana.”
”Lantas, kok sekarang sudah di sini lagi?”
”Kata tetangga saya, Sampean da-tang ke rumah saya.”
Mbah Imam terlihat tenang-tenang saja. Tapi justru itulah yang makin membuat saya penasaran kepadanya. Sebab tidak hanya sekali ini perilaku dan tindakan Mbah Imam terasa nyeleneh di mata saya. Setahu saya, daerah gunung barat sangat jauh dari sini, diperlukan waktu kurang lebih seharian untuk perjalanan.
”Menurut Panjenengan, apa sebenarnya penyebab semuanya ini, Mbah?” saya memancing hikmah dari beliau.
”Ya, seperti yang pernah saya sampaikan sejak dulu itu, bahwa apa pun bencana yang terjadi menimpa manusia, itu disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.”
”Tapi, kan banyak yang tak berdoa terkena bencana itu?”
”Bencana itu, mengandung di dalamnya teguran dan peringatan. Dan menjadi hak Allah untuk mengambil orang ini dan orang itu, yang kita sebut sebagai korban. Tapi intinya, terhadap bencana, seperti lindu besar itu, kita musti pandai-pandai mengambil hikmah.”
”Terus, apa yang musti kami lakukan, Mbah?”
”Kalau kita masih dilindungi oleh Allah, itu berarti kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan sampai kita berbangga, bahwa kita yang diselamatkan berarti kita tak memiliki banyak dosa. Tidak begitu. Sebaliknya, kita musti lebih banyak introspeksi, memperbaiki diri dan menambah rasa peduli terhadap sesama. Jangan sampai kita bertambah egois dan mementingkan diri sendiri. Sebab nyata-nyata hanya Allah yang paling berkuasa. Kita, manusia ini, bergelimang dosa dan tak memiliki kekuatan apa-apa, kecuali kekuatan yang telah diberikan oleh Allah Swt.”
Tidak seperti biasanya, sore itu Mbah Imam sepertinya terburu-buru. Saya tak habis mengerti, orang setua beliau ternyata memiliki kepedulian yang tinggi. Sewaktu pamit dari rumah saya, beliau bilang hendak mengunjungi orang-orang yang tertimpa bencana di daerah selatan. q – o.
Cerpen Zainal Arifin Thoha
Sunday, 27 May 2007, Rubrikasi – Budaya
SUDAH hampir sebulan ini, burung gagak berkaok-kaok mengitari daerah kami, terutama di malam hari. Konon, kata para sesepuh, bila burung gagak berkaok-kaok di malam hari, seperti itu, adalah pertanda akan ada kematian. Tetapi, fenomena burung gagak itu tak hanya terjadi di daerah kami saja, melainkan di daerah lain, menurut kawan saya, juga acap terdengar.
Bagi kami, antara percaya dan tidak dengan pertanda alam itu, merupakan hal lumrah, lantaran antara kami dengan generasi masa lalu terpaut jauh dalam hal keyakinan ataupun ilmu titen.
Tapi nyatanya, Mbah Imam, sesepuh masjid yang juga abdi dalem keraton menangkap isyarat lain. Itu sebabnya, hampir saban hari ia membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani. Ketika saya tanyakan kepadanya, untuk apa membaca Manaqib seperti itu, Mbah Imam menjawab untuk keselamatan. Bagi siapa? Ya, bagi diri sendiri, keluarga, para tetangga, serta masyarakat pada umumnya.
Nah, ketika Lindu terjadi di hari Sabtu pagi itu, saya teringat dengan aktivitas yang dilakukan Mbah Imam. Bagaimana kabar beliau? Sebab yang saya lihat dari berita televisi, rumah-rumah di daerah Mbah Imam telah luluh lantak, bahkan beberapa orang menjadi korban dari bencana itu.
Saya sendiri, bersama keluarga, sehari sebelum lindu atau gempa itu terjadi, telah pergi ke Jawa Timur, selain untuk suatu acara juga kangen dengan orang tua. Maka demi mendengar Yogya digoyang gempa, kami segera balik. Sesampainya di Yogya, saya segera meluncur ke rumah Mbah Imam. Namun, yang saya dapati hanya rumah beliau yang utuh, sedangkan Mbah Imam sendiri menurut informasi yang saya dapatkan dari tetangganya, tengah pergi ke rumahnya yang berada di gunung daerah barat.
Sepanjang perjalanan menuju dan balik dari rumah Mbah Imam, saya menyaksikan rumah-rumah yang berobohan, hanya tinggal puing-puing. Begitu pula, saya dapati, keluarga-keluarga yang hidup di tenda-tenda darurat. Pada saat seperti itulah, teringat dengan apa yang disampaikan seorang kiai muda yang saya temui di Kediri saat bencana Yogya terjadi.
”Bencana itu memang tak bisa dihindarkan,” ucapnya.
”Mengapa?”
”Ya, karena memang sudah saatnya, dan semuanya itu ada hubungannya dengan ulah manusia sendiri.”
”Maksudnya?”
”Alam sudah tak lagi sabar menyaksikan tingkah polah manusia.”
”Mengapa yang banyak menjadi korban rakyat kecil?”
”Para korban itu, sebenarnya justru diselamatkan, utamanya dari bencana yang lebih besar.”
”Maksud bencana yang lebih besar?”
”Saya sendiri tidak begitu tahu. Menurut guru saya, kurang lebih sebulan sebelum bencana itu terjadi, beliau ditemui Nyai Roro Kidul yang mengabarkan akan datangnya lindu yang akan banyak menelan korban.”
”Lantas, mengapa…” saya belum sempat menyelesaikan kalimat.
”Iya, sebenarnya guru saya telah mencoba berunding dan juga berdoa kepada Tuhan, namun lindu itu memang sudah waktunya terjadi, tak bisa dielakkan. Bahkan, kata beliau, bencana akan terus terjadi hingga tahun 2010, di mana-mana di negeri ini.”
”Terus,” saya bertambah penasaran.
”Menurut saya sendiri, yang dimaksud bencana lebih besar itu, tidak lain adalah bencana akidah, bencana moral, bencana iman. Mereka, para korban itu, telah diselamatkan Allah dari bencana yang jauh lebih berbahaya. Sebab rusaknya iman, rusaknya moral, jauh lebih berbahaya dari bencana.”
Ya, apa yang disampaikan kiai muda yang saya temui di Kediri itu masih terus terngiang, terbayang-bayang, hingga saya sampai di rumah kembali. Kepada istri, saya sampaikan bahwa Mbah Imam tak berhasil saya temui.
Anehnya, sore tatkala saya masih tertidur kecapekan, Mbah Imam telah hadir di rumah kami.
”Bukankah Mbah Imam pergi ke gunung di barat?” tanya saya pada beliau.
”Benar, saya memang nyambangi keluarga dan saudara saya di sana.”
”Lantas, kok sekarang sudah di sini lagi?”
”Kata tetangga saya, Sampean da-tang ke rumah saya.”
Mbah Imam terlihat tenang-tenang saja. Tapi justru itulah yang makin membuat saya penasaran kepadanya. Sebab tidak hanya sekali ini perilaku dan tindakan Mbah Imam terasa nyeleneh di mata saya. Setahu saya, daerah gunung barat sangat jauh dari sini, diperlukan waktu kurang lebih seharian untuk perjalanan.
”Menurut Panjenengan, apa sebenarnya penyebab semuanya ini, Mbah?” saya memancing hikmah dari beliau.
”Ya, seperti yang pernah saya sampaikan sejak dulu itu, bahwa apa pun bencana yang terjadi menimpa manusia, itu disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.”
”Tapi, kan banyak yang tak berdoa terkena bencana itu?”
”Bencana itu, mengandung di dalamnya teguran dan peringatan. Dan menjadi hak Allah untuk mengambil orang ini dan orang itu, yang kita sebut sebagai korban. Tapi intinya, terhadap bencana, seperti lindu besar itu, kita musti pandai-pandai mengambil hikmah.”
”Terus, apa yang musti kami lakukan, Mbah?”
”Kalau kita masih dilindungi oleh Allah, itu berarti kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan sampai kita berbangga, bahwa kita yang diselamatkan berarti kita tak memiliki banyak dosa. Tidak begitu. Sebaliknya, kita musti lebih banyak introspeksi, memperbaiki diri dan menambah rasa peduli terhadap sesama. Jangan sampai kita bertambah egois dan mementingkan diri sendiri. Sebab nyata-nyata hanya Allah yang paling berkuasa. Kita, manusia ini, bergelimang dosa dan tak memiliki kekuatan apa-apa, kecuali kekuatan yang telah diberikan oleh Allah Swt.”
Tidak seperti biasanya, sore itu Mbah Imam sepertinya terburu-buru. Saya tak habis mengerti, orang setua beliau ternyata memiliki kepedulian yang tinggi. Sewaktu pamit dari rumah saya, beliau bilang hendak mengunjungi orang-orang yang tertimpa bencana di daerah selatan. q – o.
surat resmi
Bagian-bagian surat resmi:1. kepala/kop surat, terdiri dari
* nama instansi/lembaga, ditulis dengan huruf kapital/huruf besar
* alamat instansi/lembaga, ditulis dengan variasi huruf besar dan kecil
* logo instansi/lembaga
2. nomor surat, yakni urutan surat yang dikirimkan
3. lampiran, berisi lembaran lain yang disertakan selain surat
4. hal, berupa garis besar isi surat
5. tanggal surat (penulisan di sebelah kanan sejajar dengan nomor surat)
6. alamat yang dituju (jangan gunakan kata kepada)
7. pembuka/salam pembuka (diakhiri tanda koma)
8. isi surat
-Uraian isi berupa uraian hari, tanggal, waktu, tempat, dan sebagainya ditulis dengan huruf kecil, terkecuali penulisan berdasarkan ejaan yang disempurnakan (EYD) haruslah menyesuaikan.
9. penutup surat
10.penutup surat, berisi
- salam penutup
- jabatan
- tanda tangan
- nama (biasanya disertai nomor induk pegawai atau NIP)
11. tembusan surat, berupa penyertaan/pemberitahuan kepada atasan tentang adanya suatu kegiatan
* nama instansi/lembaga, ditulis dengan huruf kapital/huruf besar
* alamat instansi/lembaga, ditulis dengan variasi huruf besar dan kecil
* logo instansi/lembaga
2. nomor surat, yakni urutan surat yang dikirimkan
3. lampiran, berisi lembaran lain yang disertakan selain surat
4. hal, berupa garis besar isi surat
5. tanggal surat (penulisan di sebelah kanan sejajar dengan nomor surat)
6. alamat yang dituju (jangan gunakan kata kepada)
7. pembuka/salam pembuka (diakhiri tanda koma)
8. isi surat
-Uraian isi berupa uraian hari, tanggal, waktu, tempat, dan sebagainya ditulis dengan huruf kecil, terkecuali penulisan berdasarkan ejaan yang disempurnakan (EYD) haruslah menyesuaikan.
9. penutup surat
10.penutup surat, berisi
- salam penutup
- jabatan
- tanda tangan
- nama (biasanya disertai nomor induk pegawai atau NIP)
11. tembusan surat, berupa penyertaan/pemberitahuan kepada atasan tentang adanya suatu kegiatan
LIMBAH KERTAS
Keunikan di Balik Kertas
Diketahui, bahwa kertas termasuk golongan sampah anorganik. Di mana sekarang ini banyak orang yang menyia-nyiaka limbah kertas. Misal dari kutipan di atas yang terjadi di dalam kehidupan nyata di lingkungan sekolah, yaitu masih banyak siswa yang membuang sampah kertas sembarangan.
Mungkin mereka bertindak sebelum berfikir. Padahal, sampah kertas bisa didaur ulang atau dimanfaatkan menjadi sesuatu yang unik. Contoh pemanfaatan limbah kertas yaitu dijadikan origami dan tatakan fas bunga yang biasanya di taruh di ruang tamu.
Untuk membuat origami tentunya tidak asing lagi. Nanun, membuat tatakan fas mungkin masih asing. Bahannya yaitu kalander bekas atau bisa juga majalah bekas. Sedangkan alatnya yaitu lem,penggaris,benang dan pensil.
Caranya yaitu kalender atau majalah bekas digaris dengan panjang 20cm, lebar 2cm dan berbentuk segi tiga sama kaki. Kemudian digunting,digulung bentuk lonjong,selanjutnya dironce menjadi tatakan fas bunga yang menarik.
Kesimpulannya yaitu,sebenarnya memanfaatkan limbah kertas sangatlah mudah dan akan menjadi sesuatu yang unik. Jadi, manfaatkan sebaik-baiknya.
Nama: Ika Erni Widi Astuti
NO. :19
VIID
Diketahui, bahwa kertas termasuk golongan sampah anorganik. Di mana sekarang ini banyak orang yang menyia-nyiaka limbah kertas. Misal dari kutipan di atas yang terjadi di dalam kehidupan nyata di lingkungan sekolah, yaitu masih banyak siswa yang membuang sampah kertas sembarangan.
Mungkin mereka bertindak sebelum berfikir. Padahal, sampah kertas bisa didaur ulang atau dimanfaatkan menjadi sesuatu yang unik. Contoh pemanfaatan limbah kertas yaitu dijadikan origami dan tatakan fas bunga yang biasanya di taruh di ruang tamu.
Untuk membuat origami tentunya tidak asing lagi. Nanun, membuat tatakan fas mungkin masih asing. Bahannya yaitu kalander bekas atau bisa juga majalah bekas. Sedangkan alatnya yaitu lem,penggaris,benang dan pensil.
Caranya yaitu kalender atau majalah bekas digaris dengan panjang 20cm, lebar 2cm dan berbentuk segi tiga sama kaki. Kemudian digunting,digulung bentuk lonjong,selanjutnya dironce menjadi tatakan fas bunga yang menarik.
Kesimpulannya yaitu,sebenarnya memanfaatkan limbah kertas sangatlah mudah dan akan menjadi sesuatu yang unik. Jadi, manfaatkan sebaik-baiknya.
Nama: Ika Erni Widi Astuti
NO. :19
VIID
CERITA MENGESANKAN
JANJI SI BANDEL
Waktu itu, aku masih kecil. Umurku masih 4 tahun.Sifat bandel, cengeng, dan pemalu masih tertanam pada diriku ini. Sungguh, pernah mengalami mengalami kejadian yang tak akan aku lupakan seumur hidup.
Saat itu ibu mengajakku ke took buku “RESTU” untuk membeli peralatan sekolah.Karena tahun depan aku akan disekolahkan di Taman Kanak-Kanak Darma Wanita Pucungkidul.
Kami pergi ke sana dengan mengaendarai sepeda. Karena perjalanan sangat jauh, tak lupa ibu membawakan bekal untukku. Yaitu, air minum, permen dan makanan ringan. Bahkan ibu juga membawakanku topi.
Di sepanjang jalan seringkali kami berhenti di tempat teduh untuk minum ataupun minta permen. Cuaca sangat panas. Terik matahari terasa membakar kulit. Tapi itu semua tak memudarkan semangatku dan ibu.
Dan tak terasa kami sudah sampai di tempat tujuan. Aku di bonceng ibu masuk ke dalam toko. Di dalam took aku sangat senang sekali. Melihat banyak buku gambar, buku tulis, krayon, majalah anak-anak dan masih banyak lagi. Ibu juga menawariku apa aku mau dibelikan yang ini atau yang itu.
“Huh…, seneng banget deh,”ujarku dalam hati. Akan tetapi, seringkali ibu menegurku karena aku berjalan-jalan melihat buku terlalu jauh.
Setelah selesai memilih-milih peralatan sekolah yang akan di beli, ibu bilang padaku,”ini semua ibu rasa sudah cukup nak. Ayo ke sana!!!”ujar ibu padaku dengan tersenyum dan sambil melihat ke arah pintu ke luar.
Tanpa berfikip panjang, aku langsung ke luar. Bingung, itulah yang aku rasakan saat itu. Aku coba tengok ke belakang, kulirik ke samping kiri dan kanan. Aku terkejut karena ibuku tak ada .
Wajahku langsung pucat pasi. Mataku memerah dan kuteteskan air mata. Aku menangis sambil teriak-teriak memangil-manggil ibuku. “Ibu…,ibu…,ibu…,”teriakku terus menerus tanpa lelah.
Sampai ada seorang pegawai took yang keluar dan berjalan mendekati aku.
“Adek…, kenapa adek menagis?”Tanya kakak itu padaku.
“Ibuku hilang,”jawabku sambil menangis tersedu-sedu.
“Bukankah adek tadi membeli peralatan sekolah bersama ibu kamu di dalam?”Tanya kakak itu lagi.
Namun aku hanya menganggukkan kepala sambil manangis dan memanggil-manggil ibuku.
“Sudah-sudah, jangan menangis lagi ya!!! Ayo masuk ke dalam, kakak bantu cari ibu kamu. Siapa tahu, ibumu masih ada di dalam dan mencari-cari kamu,”ajaknya padaku.
“Akupun masuk ke dalam toko bersama kakak yang tadi. Kulihat di kasir ibuku sedang membayar. Ajupun langsung berlari kearah ibu dan memeluknya.
“Ke mana saja kamu?? Dari tadi ibu mencari kamu nak?”Tanya ibu padaku.
“Aku juga mencari-cari ibu. Tadi di luar aku menangis dan teriak-teriak memanggil ibu. Aku kira ibu hilang,”jawabku pada ibu sambil menangis tersedu-sedu.
“Iya bu. Itu memang betul. Tadi saya melihat adek kecil ini sedang menangis mencari ibunya. Dan saya membawanya ke mari,”sahut kakak yang menolongku tadi.
“Sukurlah mas . Terimakasih ya, berkat mas saya bias bertemu dengan anak saya,” ucap ibuku.
“Sama-sama bu,”jawabnya tersenyum sipu.
“Makanya, kamu itu jadi anak jangan bandel. Kalau dinasehati ibu yang nurut!!! Ayo kita pulang!!! Ibu sudah selesai,”ajak ibu.
Aku hanya mengangguk. Sungguh aku tak akan melupakan kejadian ini. Dan aku berjaji tidak akan jadi anak yang cengeng dan bandel lagi.
By:ika erni8D_19
Waktu itu, aku masih kecil. Umurku masih 4 tahun.Sifat bandel, cengeng, dan pemalu masih tertanam pada diriku ini. Sungguh, pernah mengalami mengalami kejadian yang tak akan aku lupakan seumur hidup.
Saat itu ibu mengajakku ke took buku “RESTU” untuk membeli peralatan sekolah.Karena tahun depan aku akan disekolahkan di Taman Kanak-Kanak Darma Wanita Pucungkidul.
Kami pergi ke sana dengan mengaendarai sepeda. Karena perjalanan sangat jauh, tak lupa ibu membawakan bekal untukku. Yaitu, air minum, permen dan makanan ringan. Bahkan ibu juga membawakanku topi.
Di sepanjang jalan seringkali kami berhenti di tempat teduh untuk minum ataupun minta permen. Cuaca sangat panas. Terik matahari terasa membakar kulit. Tapi itu semua tak memudarkan semangatku dan ibu.
Dan tak terasa kami sudah sampai di tempat tujuan. Aku di bonceng ibu masuk ke dalam toko. Di dalam took aku sangat senang sekali. Melihat banyak buku gambar, buku tulis, krayon, majalah anak-anak dan masih banyak lagi. Ibu juga menawariku apa aku mau dibelikan yang ini atau yang itu.
“Huh…, seneng banget deh,”ujarku dalam hati. Akan tetapi, seringkali ibu menegurku karena aku berjalan-jalan melihat buku terlalu jauh.
Setelah selesai memilih-milih peralatan sekolah yang akan di beli, ibu bilang padaku,”ini semua ibu rasa sudah cukup nak. Ayo ke sana!!!”ujar ibu padaku dengan tersenyum dan sambil melihat ke arah pintu ke luar.
Tanpa berfikip panjang, aku langsung ke luar. Bingung, itulah yang aku rasakan saat itu. Aku coba tengok ke belakang, kulirik ke samping kiri dan kanan. Aku terkejut karena ibuku tak ada .
Wajahku langsung pucat pasi. Mataku memerah dan kuteteskan air mata. Aku menangis sambil teriak-teriak memangil-manggil ibuku. “Ibu…,ibu…,ibu…,”teriakku terus menerus tanpa lelah.
Sampai ada seorang pegawai took yang keluar dan berjalan mendekati aku.
“Adek…, kenapa adek menagis?”Tanya kakak itu padaku.
“Ibuku hilang,”jawabku sambil menangis tersedu-sedu.
“Bukankah adek tadi membeli peralatan sekolah bersama ibu kamu di dalam?”Tanya kakak itu lagi.
Namun aku hanya menganggukkan kepala sambil manangis dan memanggil-manggil ibuku.
“Sudah-sudah, jangan menangis lagi ya!!! Ayo masuk ke dalam, kakak bantu cari ibu kamu. Siapa tahu, ibumu masih ada di dalam dan mencari-cari kamu,”ajaknya padaku.
“Akupun masuk ke dalam toko bersama kakak yang tadi. Kulihat di kasir ibuku sedang membayar. Ajupun langsung berlari kearah ibu dan memeluknya.
“Ke mana saja kamu?? Dari tadi ibu mencari kamu nak?”Tanya ibu padaku.
“Aku juga mencari-cari ibu. Tadi di luar aku menangis dan teriak-teriak memanggil ibu. Aku kira ibu hilang,”jawabku pada ibu sambil menangis tersedu-sedu.
“Iya bu. Itu memang betul. Tadi saya melihat adek kecil ini sedang menangis mencari ibunya. Dan saya membawanya ke mari,”sahut kakak yang menolongku tadi.
“Sukurlah mas . Terimakasih ya, berkat mas saya bias bertemu dengan anak saya,” ucap ibuku.
“Sama-sama bu,”jawabnya tersenyum sipu.
“Makanya, kamu itu jadi anak jangan bandel. Kalau dinasehati ibu yang nurut!!! Ayo kita pulang!!! Ibu sudah selesai,”ajak ibu.
Aku hanya mengangguk. Sungguh aku tak akan melupakan kejadian ini. Dan aku berjaji tidak akan jadi anak yang cengeng dan bandel lagi.
By:ika erni8D_19
PUISI TEMA LINGKUNGAN ANAK S1BOY
Mekar S1boyku
Karya : Ika Erni
Embun di pagi buta
Membasahi dedaunan
Yang indah dipandang
Seperti sekolahku yang permai ini
Rindangnya pepohonan
Merah,kuning bunga bermekaran
Menghiasi sekeliling sekolahku
Bersih…,
Tiada sampah…,
Bahkan goresan sekalipun
Menambah nyaman suasana hatiku
Yang gunda menjadi ceria
Nyatasegar lingkunganku
Hai kawan semuanya
Lihatlah kami di sini
Inilah kami anak S1BOY
We are the best
Sekolah “ADI WIYATA”
Hijaukan bumi ini
Tuk selama-lamanya
Karya : Ika Erni
Embun di pagi buta
Membasahi dedaunan
Yang indah dipandang
Seperti sekolahku yang permai ini
Rindangnya pepohonan
Merah,kuning bunga bermekaran
Menghiasi sekeliling sekolahku
Bersih…,
Tiada sampah…,
Bahkan goresan sekalipun
Menambah nyaman suasana hatiku
Yang gunda menjadi ceria
Nyatasegar lingkunganku
Hai kawan semuanya
Lihatlah kami di sini
Inilah kami anak S1BOY
We are the best
Sekolah “ADI WIYATA”
Hijaukan bumi ini
Tuk selama-lamanya
Langganan:
Postingan (Atom)
